Foto Imam Samudra
Replik Duplik Justicie – Pihak keluarga Imam Samudra membenarkan bahwa foto yang beredar di website www.arrahmah.com adalah foto jenazah Imam Samudra. Dan pihak keluarga memang sengaja memampang foto tersebut di internet.
“Memang sudah beredar, Arrahmah.com sudah izin dari keluarga,” kata adik kandung Imam Samudra, Lulu Jamaluddin kepada wartawan di Jakarta, Senin (10/11).
Menurut Lulu, alasan keluarga membiarkan foto tersebut beredar merupakan bagian dari jihad. “Menunjukkan bahwa Imam Samudra memang seorang mujahid,” ujar Lulu.
Foto wajah Imam Samudra yang sudah dikafani dimuat www.arrahmah.com Di atas foto tertulis “Jihad Indonesia”. Sedangkan di bawah foto tertulis “As Syahid Imam Samudra Bergabung dengan Kafilah Syuhada”. Foto tersebut kini beredar di media massa.
Isi kalimat awal berita tersebut adalah: “Hari ini telah dijemput para bidadari para kafilah syuhada, Mujahid Imam Samudra, Mujahid Amrozi dan Mujahid Ali Ghufron. Mereka semua telah menunjukkan pada umat ini bagaimana sikap mujahid sejati yang tetap istiqomah.”
Bisa saja rekayasa
Polri mengaku belum mengetahui beredarnya foto wajah jenazah Imam Samudra yang sudah dikafani di internet. Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira, bisa jadi itu hanya rekayasa.
“Saya belum lihat, Bisa saja itu hanya rekayasa foto,” kata Abubakar di Mabes Polri, Jakarta, Senin (10/11).
Menurut Abubakar, bisa jadi yang menebarkan foto tersebut dari anggota keluarga Imam Samudra. Namun dia enggan berkomentar panjang, mengingat dia belum melihat website arrahmah.com, yang memuat foto tersebut.
“Hal ini akan kami tindak lanjuti,” imbuh dia.
Foto tersebut dimuat www.arrahmah.com. Di atas foto tertulis “Jihad Indonesia”. Sedangkan di bawah foto tertulis “As Syahid Imam Samudra Bergabung dengan Kafilah Syuhada”. Foto tersebut kini beredar di media massa.
Isi kalimat awal berita tersebut adalah: “Hari ini telah dijemput para bidadari para kafilah syuhada, Mujahid Imam Samudra, Mujahid Amrozi dan Mujahid Ali Ghufron. Mereka semua telah menunjukkan pada umat ini bagaimana sikap mujahid sejati yang tetap istiqomah.
Keinginan Damai di Palestina
Para pemimpin dunia Islam dalam upacara pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi ke-11 Organisasi Konferensi Islam (KTT OKI) di Dakar, Senegal, 13-14 Maret 2008, menyatakan keprihatinan mendalam dan menginginkan proses perdamaian kembali dikedepankan untuk mengatasi konflik Palestina.
Jurubicara Kepresidenan RI Dino Patti Djalal mengatakan itu di sela-sela sidang KTT ke-11 OKI di Dakar, Senegal, Kamis.
“Dalam pembukaan tadi banyak dibicarakan kondisi dunia termasuk disampaikan oleh Sekjen PBB yang hadir secara khusus dan dari semua pembicara baik dari Malaysia, Senegal, Liga Arab, serta wakil dari kelompok Asia dan Afrika. Isu yang menonjol terutama Palestina,” katanya.
Ia mengatakan bahwa semua pembicara menyatakan mengutuk serangan Israel awal Maret 2008 dan prihatin atas tragedi kemanusiaan berkepanjangan di Palestina.
“Semua pembicara menyatakan keprihatinan atas situasi di Gaza, terutama serangan Israel terhadap penduduk sipil, mereka ingin sekali agar serangan dihentikan. Mereka mengutuk sekali serangan ini,” katanya.
Ia mengatakan, secara umum para pemimpin dunia Islam juga menyata prihatin atas banyaknya konflik yang terjadi di komunitas Islam, misal di Irak, Afganistan, Somalia dan Sudan.
“Mereka mempertanyakan reaksi OKI terhadap tingginya konflik di dalam tubuh umat Islam sendiri,” katanya.
Sementara itu sebelumnya, Sekjen OKI Ekmeleddin Ihsanoglu mengatakan bahwa masalah rakyat Palestina yang berseteru dengan Israel adalah butir sangat penting dalam agenda KTT ke-11 OKI, 13-14 Maret.
“Saya kira suatu pesan kuat akan disampaikan untuk mendukung hak-hak mutlak rakyat Palestina guna mendirikan negara sendiri, di tanah sendiri, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya,” katanya.
Sebelumnya Israel melakukan serangan di jalur Gaza pada awal Maret 2008 yang mengakibatkan 100 warga sipil tewas dan dinilai mencederai kesepakatan Annapolis akhir tahun lalu. [*/L1]
========================================
Jihad VS Terorisme
Semalam ada sebuah acara perdebatan di Tv One. Acara ini membicarakan terorisme dengan 2 pembicara Al Chaidar dan satunya lagi disebut Intelektual NU, versus pihak Jihad yang digawangi Ubu Jihad dan Umar Abduh. Ukh, sungguh menarik. Aku tak mampu memindahkan pandangan mata ke tempat lain, kecuali televisi.
Sebenarnya bingung juga mau menentukan dipihak mana, karena kedua-duanya mengaku Islam, dan sepakat meninggikan derajat Islam. Hanya saja, perbedaan pandangan tentang Jihad seakan membuat garis yang jelas antara Jihad dengan Terorisme. Kedua belah pihak terlihak saling menguatkan pendapatnya melalui kajian hadist, seperti “perang hadist” terlihat….
Namun yang “terlalu cepat” diantara mereka ialah vonis yang amat keras diantara keduanya. Pihak NU menganggap Abu Jihad sebagai “ingkar sunnah”, yang sebelumnya Abu Jihad menyebut intelektual muda NU sebagai penyebar “kebohongan besar”. Lontaran vonis ini yang pada dasarnya sebagai deklarasi kepada lawan bahwa mereka berbeda dan musuh. Sedih, seakan terlihat sesama muslim bermusuhan. Walaupun demikian, saya berdo’a semoga semakin banyak mujahid hadir untuk menegakkan kalimatullah, berbuatlah sesuai Al Qur’an dan Assunah. Wallahu A’lam.
=====================================================================
Kewajiban Jihad
” Islam sendiri mengharamkan secara tegas tindakan yang dapat menghilangkan nyawa orang lain (baca: membunuh). Namun, dalam kasus-kasus tertentu membunuh mau tidak mau harus dilakukan. Dalam Islam membunuh dalam situasi perang dan sebagai bentuk hukuman (qishash dan had) diperbolehkan. Membunuh dalam situasi ini adalah conditio sine qua none yang bila tidak dilakukan malah berakibat lebih buruk bagi kemanusiaan pada umumnya.
Dalam praktek “membunuh” yang sadis dan kejam seperti ini, Islam tetap mengajarkan agar dilakukan secara ihsân, tidak asal bunuh. Sebab pada prinsipnya, yang diinginkan oleh Islam adalah “kasih sayang” atau rahmah yang menjadi dasar diturunkannya ajaran Islam. Sebagai wujud ihsân dalam “membunuh” Islam menetapkan beberapa aturan dan adab yang tidak boleh dilanggar, antara lain harus dilakukan dengan cara yang paling tidak menyakitkan, tidak boleh membakar, tidak boleh menyiksa (menyakitkan), dan tidak boleh dilakukan secara mutilasi. Agar tidak menyakitkan Islam menganjurkan agar hukuman pancung dilakukan dengan menebas tengkuk, sekali tebas dan dengan pedang yang paling tajam. Bila ketentuan itu diterapkan hari ini, akan lebih banyak lagi cara yang dapat dilakukan agar proses “membunuh” lebih tidak menyakitkan. Banyak sekali hadis yang menjelaskan ketentuan-ketentuan dan adab-adab ini.
Praktek yang sama juga harus diterapkan pada binatang yang akan disembelih. Sama sekali dilarang dalam Islam menyiksa binatang, sekalipun binatang itu akan dikonsumsi. Prosesi penyembelihan harus dilakukan sebaik mungkin agar binatang yang akan disembelih tidak tersakiti. Alat penyembelihannya harus diasah setajam-tajamnya, tidak boleh diperlihatkan di hadapan binatang yang akan disembelih sebelum waktunya, dan binatangnya harus ditenangkan terlebih dahulu. Baru setelah itu dilakukan penyembelihan dengan cara yang paling cepat dan tepat pada aliran darahnya agar segera mati. Praktik ini dijelaskan secara khusus dalam berbagai kitab fikih berdasarkan hadis-hadis dari Rasulullah Saw.
Islam juga sama sekali tidak menghendaki kerusakan, penyiksaaan, dan penganiayaan. Sebaliknya Islam hanya menghendaki kedamaian dan rahmah (kasih sayang) bagi semesta. Sama sekali tidak ada ajaran yang membolehkan umat Islam menghancurkan kaum lain dengan cara-cara yang zhalim. Jangankan membunuh orang-orang yang tidak berdosa (yang tidak berhak dibunuh) dan merusak fasilitas-fasilitas milik orang lain yang sama sekali tidak boleh dilakukan (bahkan dalam perang sekalipun), membunuh dan menghancurkan sesuatu yang diperbolehkan secara hukum dan etika masyarakat pun tetap harus dilakukan dengan cara yang paling baik dan tidak menyakitkan.
Sangat tidak masuk akal dan mengada-ada bila Islam mengajarkan tindak terorisme dengan bom bunuh diri dalam situasi damai, bukan perang. Hatta dalam perang pun cara-cara pengrusakan dan pembakaran fasilitas umum dan orang-orang yang tidak berdosa sama sekali tidak dibenarkan. Jadi, secara teologis tidak ada alasan kuat yang dapat dijadikan sandaran untuk menghalalkan tindak-tindak terorisme seperti yang marak belakangan ini di Indonesia. Itu sama sekali bukan karakter ajaran Islam yang benar.
Kalau demikian adanya, patut dipertanyakan “keislaman” orang-orang yang ada di balik peristiwa tersebut. Apakah memang mereka banar-benar memahami Islam dengan baik? Tidak mustahil bahwa peristiwa-peristiwa itu justru dibuat oleh pihak-pihak yang anti-Islam. Tidak mustahil justru pihak-pihak asing yang tidak ingin melihat Indonesia maju sengaja menciptakan bom di mana-mana dengan mengatasnamakan Islam. Dan pion yang mereka mainkan adalah orang-orang yang punya semangat besar terhadap Islam, tapi tidak mengerti Islam dengan baik. Dalam teori konspirasi, hal-hal semcam ini kemungkinan terjadinya sangat besar. Teori ini bahkan lebih meyakinkan daripada mengkambinghitamkan ajaran Islam yang jelas-jelas tidak pernah mengajarkan praktik-praktik kekerasan semacam itu. Islam mengecamnya sebagai tindakan zhalim dan biadab. Wallâhu A‘lamu bi Al-Shawwab.
No Comments Yet
Belum ada komentar.

